Tue. Apr 20th, 2021

www.workforce3one.org10 bangunan bersejarah yang mempesona di IndonesiaDilihat dari bangunan bersejarah yang mempesona di Indonesia, Candi Borobudur dan Prambanan sudah pasti menjadi hal yang paling penting. Namun terlepas dari era Budha India, Indonesia masih memiliki banyak bangunan bersejarah yang mempesona. Lebih dari empat abad, era kolonial juga menambah banyak karya arsitektur yang memperkaya dunia arsitektur Indonesia. Berbagai kombinasi elemen budaya dari berbagai ras, etnis dan agama mewarisi bangunan bersejarah yang mempesona dan sangat penting dalam perkembangan arsitektur negara. Melalui arsitektur bangunan bersejarah ini, kita dapat memahami pentingnya dan signifikansi sejarah perkembangan manusia. Kearifan dan imajinasi manusia yang disesuaikan dengan kebutuhan ruang fungsional telah melahirkan karya arsitektur yang luar biasa. Dedikasi pada pekerjaan konstruksi ini juga telah menciptakan bangunan bersejarah Indonesia yang menarik, yang diakui dan akan bertahan selamanya.

  1. Borobudur

Kemegahan Borobudur tak tertandingi di Indonesia di masa lalu. Seperti yang dikatakan Bung Karno, untuk mempelajari sejarah kebakaran kita, kita harus mengetahui bagaimana megahnya candi Borobudur saat ini. Berikut ini adalah sejarah singkat Borobudur yang megah. Menurut catatan sejarah, bangunan ini dipredikasi didirikan ketika masa ke sembilan, ketika daerah magelang dipimpin oleh Raja Samara Tunga. Raja memerintahkan pembangunan bangunan candi yang kemudian dipimpin oleh seorang arsitek bernama Gunadarma.

Tanpa bantuan teknologi canggih saat ini, Gunadarma melukis Candi Borobudur seluas ratusan meter persegi. Melalui pengembangan ini, Borobudur dapat diselesaikan dalam waktu 50-70 tahun. Konon, Gunadarma sendiri tidak melihat hasil akhirnya. Nama Borobudur sendiri berarti “Candi Budha Ur”, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti candi Budha di atas gunung. Memang Borobudur saat itu berada di atas bukit. Inilah sejarah singkat Borobudur sebelum dibangun. Namun, sejak saat itu Borobudur juga menjadi saksi sejarah Indonesia lainnya.

Baca Juga: 30 Tempat Wisata Top di Cina

Karena Budha merupakan agama utama di Jawa pada masa itu, Borobudur juga tidak terlepas dari kegiatan keagamaan. Borobudur adalah pusat keagamaan terbesar di India dan pusat keagamaan berbagai kerajaan nusantara. Namun perkembangan Islam lambat laun mulai masuk ke Nusantara. Pada abad ke-15, saat pasukan Islam masuk ke Indonesia, Candi Borobudur mulai ditinggalkan oleh orang-orang yang masuk Islam. Terkadang Borobudur terlupakan, dan beberapa kali dilupakan saat terjadi letusan Gunung Merapi yang menyebabkannya terkubur abu vulkanik.

Dalam sejarah singkat Candi Borobudur di zaman penjajahan Belanda (yakni 1814), Sir Thomas Stamford Raffles berhasil mengungkap keberadaan Candi Borobudur. Raffles mendapat kabar bahwa ada bangunan besar yang terkubur abu vulkanik di Pulau Jawa. Sejak saat itu, Borobudur dilupakan oleh orang-orang selama sepuluh abad, hingga Raffles menemukannya. Kondisi Borobudur yang terlupakan saat itu tidak hanya tertimbun abu vulkanik, tetapi juga dipenuhi semak-semak, sehingga bentuk dan penampakannya tidak terlihat yaitu berantakan dan terkubur sebagian.

Candi Borobudur memiliki tinggi 42 meter, namun ketika ditemukan baru setinggi 34,5 meter hingga saat ini. Karena dengan perkuatan pondasi pura memang ada tempat pemakaman, tetapi tanah untuk dimakamkan masih tersisa, alasan kedua karena gambar panel hubungan suami istri di lantai paling bawah. Hingga akhirnya ditemukan dan dipugar, dan berbagai upaya dilakukan untuk membangun kembali candi ini yang dimulai pada masa penjajahan Inggris dan Belanda. Sejarah singkat Borobudur berhutang restorasi Indonesia sejak kemerdekaan kepada perusahaan domestik dan seluruh dunia.

Meskipun Borobudur bukan lagi salah satu dari tujuh keajaiban dunia, setelah pemugaran jangka panjang candi Budha terbesar di dunia, Borobudur masih terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991. Borobudur juga termasuk dalam memori daftar dunia yang diusulkan dengan Cerita Panji, Gerakan Non-Blok dan Tsunami Aceh. Sementara itu, empat dokumen yang masuk dalam Daftar Memori Dunia UNESCO di Indonesia adalah I La Galigo, Negarakertagama, Babad Diponegoro dan Konferensi Asia Afrika di Sulawesi. Ini menunjukkan betapa kaya sejarah dan budaya Indonesia bagi dunia.

  1. Candi Prambanan

Di tanah air tercinta, salah satu candi yang terkenal adalah Candi Prambanan. Candi tersebut merupakan candi Hindu, dan corak arsitekturnya berbeda dengan candi Borobudur. Namun tentunya berwisata ke Candi Prambanan tidak kalah dengan Candi Borobudur atau Candi Angkor Wat. Candi Prambanan terletak di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman Kabupaten Yogyakarta. Berbeda dengan sejarah asli Candi Prambanan, nama candi menjadi melegenda karena tidak merembet ke kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Konon menurut legenda, Lala Dzong Gelang meminta 1.000 candi dalam satu malam sebagai syarat melamar Bandung Bandawasa. Dengan bantuan elf, Baandawasa sanggup membuat sewu candi, namun akhirnya digagalkan oleh Rara Jonggrang. Bandawasa mengetahui penipuan yang dilakukan oleh Rara Jonggrang, sehingga ia marah dan mengutuk Roro Jonggrang sebagai patung terakhir di ribuan candi yang dibangunnya malam itu. Kemudian muncul arca perempuan pada sebuah arca di Candi Prambanan.

Kisah ini merupakan legenda yang mendekati perjalanan menuju Candi Prambanan, namun sangat berbeda dengan sejarah asli Candi Prambanan. Candii Prambaanan dibuat Rakaai Pikattan, merupakan raja mataraman lawas. pembuatan nya dimulai pada 850, mendekati waktu pembangunan Borobudur. Menurut ringkasan sejarah asli Candi Prambanan, pembangunan Candi Prambanan sama dengan pembangunan Borobudur saat itu. Menurut prasasti Shivagrha, bangunan ini dibangun untuk memperingati Dewa Siwa, dewa tertinggi agama Hindu.

Namun, saat raja Mataram terakhir pindah dari Wangsa Sanjaya ke Jawa Timur, kejayaan Candi Prambanan sirna. Alhasil, pendahulunya merintis gedung ini. Dilihat dari sejarah asli Candi Prambanan, kejadian serupa akhirnya terjadi di Candi Borobudur, Candi tersebut juga dilupakan karena tertimbun abu Gunung Merapi dan diselimuti semak-semak hingga gubernur Belanda menemukan kembali Lavres. Namun, berbeda dengan Borobudur, Candi Prambanan tidak terkubur.

Dilihat dari sejarah asli Candi Prambanan, patung bernama Lala Thongerang ini sebenarnya adalah patung Dewi Durga Mahasura Danni. Menurut mitologi, patung tersebut juga dianggap sebagai Lala Penjelmaan Jonggrang. Oleh karena itu salah satu candi Siwa di Prambanan disebut Candi Anjungan Lala Lonceng. Sama seperti Candi Borobudur, dari sejarah asli Candi Prambanan, Candi Prambanan juga banyak mengadopsi kosmologi Hindu, terutama dewa-dewa yang disimbolkan di setiap candi, termasuk Candi Lara Jonggrang itu sendiri.

Candi Prambanan memiliki tiga bagian utama yaitu Prataran Nahobo, Prataran Tengahan dan Prataran Nigero. Tiga candi utama yang melambangkan tiga dewa utama agama Hindu terletak di Plataran Njero (Plataran Njero), yang melambangkan tempat tinggal para dewa atau disebut Svargaloka.

  1. Gedung Sate

Sebuah bangunan tua kolonial Belanda yang terletak di Jalan Diponegoro Bandung karena keunikannya kerap menarik perhatian orang yang lalu lalang. Ciri khas dari bangunan ini adalah dekorasi serupa yang terdapat pada menara pusatnya yang telah lama menjadi salah satu landmark sejarah dan bangunan khas kota Bandung yang terkenal di dunia. Gedung yang bernama Gedung Sate tersebut kini menjadi gedung Pemerintah Pusat Provinsi Jawa Barat, dan biasanya menjadi tempat penyelenggaraan berbagai festival seni dan acara lainnya.

Pengamat arsitektur sering menggunakan bangunan ini sebagai bahan penelitian bangunan unik, dan bentuknya dipengaruhi oleh arsitektur Eropa. Banyak wisatawan yang ke Bandung menghabiskan waktunya untuk mengunjungi Gedung Sate, sehingga gedung ini sering dianggap sebagai salah satu tujuan wisata utama Bandung, terutama bagi mereka yang tertarik dengan sejarah gedung Sate. Namun, berhubung gedung ini digunakan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, tidak semua bagian bisa dikunjungi dengan leluasa.

Gagasan tentang sejarah arsitektur sate bermula dari penilaian Belanda bahwa Batavia tidak lagi menjadi ibu kota yang cocok karena berbagai perkembangan yang terjadi di sana. Gedung Sate didirikan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda karena para pejabat meyakini bahwa iklim Bandung sama dengan Perancis bagian selatan pada musim panas. Rencana pembangunan tersebut melibatkan 2.000 pekerja, dimana 150 di antaranya adalah pemahat atau pemahat batu nisan dan kayu Cina dari Guangzhou. Ada juga para tukang, kuli dan abdi Gedong Sirap di kampus ITB dan Gedong Papak Balai Kota Bandung.

Peletakan batu pertama dalam sejarah arsitektur sate yang dikenal dengan Gouvernements Bedrijven (GB) di Hindia Belanda, dilakukan oleh Walikota Bandung B. Coops dan putri sulung Petronella Roelofsen, Johanna Catherina Coops, sebagai wakil gubernur JP Graaf Van Limburg Stirum pada 27 Juli 1920. Arsitek terkenal J. Gerber lulus dari College of Engineering di Delft, Nederland, Irlandia. Hmm DeRoo dan Ir. G. Hendriks (George Hendriks), dan Gemeente Van Bandoeng (Gemeente Van Bandoeng) diketuai oleh kolonel. n VL. kereta luncur. Tepatnya, Gedung Sate dibangun selama 4 tahun dan selesai pada September 1924. Penyelesaiannya berupa gedung induk, kantor pusat PT (pos, telepon dan telegraf) serta gedung perpustakaan.

Selama alur pembuatan nya, arsitek Belanda Dr. Hendriik Peetrus Berlagee juga menyarankan agar  pemerintah menurutkan kebudayaan tradisional Indonesia agar Gedung Sate (Gedung Sate) memiliki gaya arsitektur unik yang memadukan gaya India dan Eropa. Jendela gedung sate bertema Moor berasal dari Spanyol. Seluruh bangunan mengadopsi gaya Italian Renaissance, sedangkan menaranya mengadopsi gaya Asia, sehingga mirip dengan atap pagoda Thailand dan pura di Bali. Bagian atas Gedung Sate dihiasi ornamen berbentuk tali mirip enam bola, yang menandakan biaya pembangunan mencapai 6 juta gulden.

Tampak depan atau depan bangunan terdapat keunikan yang istimewa yaitu memakai sambungan utara-selatan, yang juga berlaku untuk bangunan Pakuan yang menghadap ke Gunung Malaba di selatan, dan bangunan sate yang menghadap ke Gunung Tangkuban Perahu di Selatan. Utara. Batu yang digunakan pada bangunan berukuran 1 x 1 x 2 m, diambil dari perbukitan Bandung Timur dan dipasang sesuai dengan standar teknis, sehingga Gedung Sate masih kokoh dan kokoh hingga saat ini.

  1. Lawang Sewu

Dalam bahasa Jawa, Lawang Sewu berarti seribu pintu. Memang jumlah pintu pada gedung yang dibangun pada tahun 1907 itu sangat banyak, namun tidak mencapai 1.000. Lawang Sewu terletak di sebelah timur Tugu Muda Semarang, di sudut Jalan Pandanaran dan Jalan Pemuda. Bangunan tiga lantai ini memiliki gaya arsitektur Belanda yang unik, dengan banyak pintu dan jendela yang tinggi dan lebar. Di lantai utama, di tangga dekat lantai dua, ada sebuah kaca besar yang menggambarkan dua wanita Belanda yang sangat cantik. Hal inilah yang menyebabkan Lawang Sewu menjadi destinasi wisata yang eksotis dan diminati oleh berbagai kalangan.

  1. Klenteng Sam Po Kong

Klenteng Sam Po Kong dinamakan Gedung Batu karena bentuknya menyerupai gua batu besar di atas gunung berbatu. Gedung Batu atau Kedong Batu berarti tumpukan batu alam yang digunakan untuk membendung Sungai Kaligarang pada abad ke-15. Kuil ini adalah akun Sam Po Tay Djien (Sam Po Tay Djien), atau diubah namanya menjadi Laksamana China Cheng Ho (Laksamana Cheng Ho), dan sekarang berfungsi sebagai upacara peringatan dan pemujaan. Candi yang terletak di kawasan Simenggan di bagian barat daya Kota Semarang ini merupakan perpaduan budaya lokal dan Tionghoa.

  1. Pagoda Watugong 

Pagoda Bodhisattva Guanshiyin atau yang biasa dikenal dengan Pagoda Metakaruna mengacu pada pagoda cinta dan perhatian. Berada di kawasan Watugong (dinamakan karena terdapat batu mirip gong). Gedung Vihara Buddhagaya terdiri dari 5 bangunan dan 2 bangunan utama yaitu Pagoda Bodhisattva Guanshiyin dan Vihara Dhammasala yang dibangun pada tahun 1955 menggunakan bahan yang didatangkan langsung dari Tiongkok.

Baca Juga: 22 Destinasi Wisata Yang Wajib Dikunjungi saat melintas di Brebes

Ketinggian Menara Bodhisattva Guanshiyin adalah 45 m, dan ada 7 tingkat yang secara bertahap diturunkan ke puncaknya, yang berarti kesucian yang akan diperoleh pertapa setelah mencapai tingkat ke-7 atau Nirwana. Perpaduan warna merah dan kuning pada menara ini identik dengan arsitektur khas Tiongkok. Pada pagoda berbentuk segi delapan berukuran 15 x 15 meter, terdapat patung Dewi Kwan Im setinggi 5,1 m dan di sebelahnya terdapat patung Panglima We Do. Pada jendela lantai 2 hingga 6 terdapat patung Dewi Kwan Im menghadap empat penjuru mata angin sebagai lambang pancaran rasa simpati di empat penjuru tersebut. Namun, tidak ada tangga untuk mengakses puncak pagoda. Jumlah total patung di gedung itu mencapai 30. Patung tersebut memperoleh rekor MURI pada tahun 2006 sebagai pagoda tertinggi di Indonesia.

  1. Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal mencerminkan persatuan keragaman dan keragaman agama di Indonesia. Masjid terbesar di Asia Tenggara dan Asia Timur dirancang oleh Protestan Frederich Silaban. Masjid yang dibangun pada tanggal 24 Agustus 1951 dan selesai pada tanggal 22 Februari 1978 ini memiliki gaya arsitektur Islam internasional modern dan menggunakan bentuk geometris sederhana seperti kubus, bujur sangkar dan kubah bulat raksasa yang dihiasi dengan beberapa ornamen. Keberadaan kubah bulat besar digunakan untuk menunjukkan kesan mewah dan megah. Kubah raksasa Masjid Istiqlal secara unik mengadopsi konsep arsitektur minimalis, terbuat dari bahan marmer putih yang kuat, netral, sederhana dan baja tahan karat yang menyesuaikan dengan iklim tropis. Selain arsitektur Islam modern dan minimalis, arsitektur Timur Tengah juga diaplikasikan melalui dekorasi kaligrafi di dalam kubah masjid. Di pojok selatan koridor berdiri satu menara dengan total ketinggian 96,66 meter, menjadikan masjid ini begitu ikonik.

  1. Gereja Katedral

Gedung Gereja Katedral Jakarta setinggi 60 meter yang dibangun pada tahun 1891 menggantikan bangunan gereja tua bergaya Belanda yang roboh pada pukul 10.45 WIB pada tanggal 9 April 1890 tepat tiga hari setelah perayaan Paskah. Setelah melalui serangkaian masalah perizinan dan pendanaan, akhirnya pada tanggal 21 April 1901, gereja katedral mengadakan upacara pembukaan bertajuk “De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming — gereja Santa Maria diangkat surga. Berkat pendanaan gereja Indonesia, arsitektur neo-Gotik menjadi konsep bangunan yang dibangun dari 628.000 gulden Belanda. Pejabat Belanda saat itu menilai gereja bentukan Pastor Antonius Dijkmans “terlalu kuat” karena memang struktur dan bahan yang digunakan adalah pilihan terbaik.

  1. Pura Besakih

Kompleks Pura Besakih berdiri megah setinggi 915 m di kaki Gunung Agung, seolah memiliki pesona arsitektur Bali dan merupakan pusat kegiatan spiritual Hindu Dharma di Bali. Kompleks candi dibangun pada abad ke-10 dengan 23 candi, di antaranya Pura Penataran Agung merupakan intinya. menjadi “inti” pura di Bali, tempat ibadah tersebut sudah ditetapkan sebagai situs warisan budaya UNESCO sejak meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963.

  1. Istana Bogor

Istana Bogor harus dianggap sebagai gaya arsitektur sejarah yang menarik di Indonesia. Istana yang dibangun pada Agustus 1744 ini terbagi menjadi tiga lantai, yang sebelumnya bernama Buitenzorg atau Sans Souci, artinya “jangan khawatir”. Awalnya, Istana Bogor adalah bangunan tiga lantai yang semula diperuntukkan sebagai rumah liburan. Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff (Gustaaf Willem Baron Van Imhoff) secara pribadi melukis dan membangunnya dari tahun 1745 hingga 1750. Arsitekturnya mengikuti arsitektur Istana Blenheim (Istana Blenheim). Istana Bogor adalah tempat tinggal Duke Malborough di dekat Oxford, Inggris . Pada tanggal 10 Oktober 1834, Gunung Salak meletus dan gempa susulan merusak tempat peristirahatan ini. Pada tahun 1850, Istana Bogor dibangun kembali, namun sudah tidak bertingkat karena beradaptasi dengan kondisi daerah rawan gempa. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albert Jacob Jacob Duimeier van Tekes (1851-1856), bangunan tua akibat gempa dibongkar dan dibangun sesuai dengan konsep arsitektur Eropa pada abad ke-19. Sejak saat itu, bentuk arsitektur Istana Bogor mengalami berbagai perubahan, termasuk pada masa pemerintahan Gubernur Belanda Herman William Daendels dan Gubernur Inggris Sir Thomas Stamford Raffles. Sejak tahun 1850, rumah liburan ini telah menjadi istana bergaya istana dengan halaman seluas 28,4 hektar dan luas bangunan 14.892 meter persegi. Baru pada tahun 1950 gedung ini diresmikan sebagai Istana Kepresidenan Indonesia.

Indonesia masih memiliki banyak bangunan bersejarah yang mempesona. Karya arsitektur ini sangat kaya akan budaya, agama dan masa lalu. kisah nya menjadi pukulan keras bagi kita, kaya banget negara tercinta ini. Warisan abadi ini dapat memberikan pelajaran kepada anak-anak negeri ini tentang pengabdian, kebijaksanaan, persatuan, harmoni dan betapa luar biasanya Indonesia.