Kebijakan The Feds, Trump Dan Ketenagakerjaan Amerika Serikat

Kebijakan The Feds, Trump Dan Ketenagakerjaan Amerika Serikat – Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat telah menunjukkan sikap untuk tidak terlalu dovish ketika memangkas bunga suku acuan 2 bps (basis poin). Jerome Powell selaku Gubernur The Feds mengindikasikan mereka tidak akan agresif dalam memangkas suku bunga tahun 2019. Dampak dari kebijakan ini membuat USD melesat naik dan bahkan indeks dollar mencapai level tertinggi selama 2 tahun terakhir.

Sikap The Feds bahkan mendapatkan pujian dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Setelah kebijakan tersebut dimulai, Presiden Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan bea impor khusus untuk produk Cina. Hal tersebut dilakukan kurang dari 24 jam setelah kebijakan The Feds dimulai. Selama ini barang-barang impor dari Cina tidak dikenakan bea cukai, namun setelah kebijakan baru Trump, seluruh barang tersebut akan dikenakan bea impor sebesar 10%. Total nilai produk impor tersebut mencapai 300 miliar USD sejak berlaku di bulan September 2019. Dari kebijakan Trump tersebut, muncul perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat. Cina pun mengancam akan melakukan hal yang sama.

Akibat perang dagang Amerika dan Cina, terjadi perlambatan ekonomi secara global, termasuk juga di Amerika Serikat. Perekonomian Amerika Serikat ikut terseret, dan akibatnya The Feds pun akan memangkas suku bunga 2 kali lagi di tahun 2019 ini. Data dari FedWatch milik CME Group telah menunjukkan adanya probabilitas suku bunga 1,5 – 1,75% di bulan Desember 2019 sebesar 49,6%. Nilai tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan probabilitas suku bunga lainnya.

Ujian dari sikap tidak dovish datang dari data tenaga kerja Amerika Serikat. Data ini adalah salah satu acuan dari The Feds, bahkan menjadi acuan utama dalam menentukan suku bunga. Data tenaga kerja terdiri dari 3 hal, penyerapan tenaga kerja di sektor non pertanian (NFP), tingkat pengangguran dan juga rata-rata upah per jam. Dari data Forex Factory, NFP pada bulan Juli 2019 diprediksi sebanyak 165.000 orang dan turun cukup banyak dari bulan Juni 2019 yang mencapai 224.000 orang. Tingkat pengangguran turun dari 3,7% menjadi 3,6%. Begitu juga dengan rata-rata upah per jam yang akan naik sebesar 0,2%.

Apabila rilis datanya lebih bagus dari yang diprediksikan, maka hal tersebut akan memperkuat panduan kebijakan untuk tidak agresif dalam memangkas suku bunga, lalu USD berpotensi menguat. Namun bila prediksi tersebut meleset, maka spekulasi pemangkasan suku bunga secara agresif akan meningkat dan nilai dolar memiliki potensi untuk jeblok. Untuk mengetahui apa yang akan terjadi, maka yang bisa dilakukan sekarang hanyalah melihat pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, tingkat pengangguran dan juga nilai rata-rata upah per jam para pekerja di Amerika Serikat.