/Mengenal Lebih dalam SUMUT (Sumatera Utara)

Mengenal Lebih dalam SUMUT (Sumatera Utara)

www.workforce3one.orgMengenal Lebih dalam SUMUT (Sumatera Utara). Sumatera Utara (Sumut singkatnya) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian utara Sumatera. Provinsi ini memiliki ibu kota di Medan dengan luas 72.981,23 kilometer persegi. Sumatera Utara merupakan provinsi terpadat keempat di Indonesia, setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah dengan jumlah penduduk 14.908.036 jiwa pada tahun 2019.

Sejarah

Pada zaman pemerintahan Belanda, Sumatra Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernement van Sumatra dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatra, dipimpin oleh seorang Gubernur yang berkedudukan di kota Medan.

Setelah kemerdekaan, dalam sidang pertama Komite Nasional Daerah (KND), Provinsi Sumatra kemudian dibagi menjadi tiga sub provinsi yaitu: Sumatra Utara, Sumatra Tengah, dan Sumatra Selatan. Provinsi Sumatra Utara sendiri merupakan penggabungan dari tiga daerah administratif yang disebut keresidenan yaitu: Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatra Timur, dan Keresidenan Tapanuli.

Dengan diterbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia (R.I.) No. 10 Tahun 1948 pada tanggal 15 April 1948, ditetapkan bahwa Sumatra dibagi menjadi tiga provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu: Provinsi Sumatra Utara, Provinsi Sumatra Tengah, dan Provinsi Sumatra Selatan. Tanggal 15 April 1948 selanjutnya ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Sumatra Utara. Tanggal 15 April 1948 selanjutnya ditetapkan sebagai hari jadi Sumatera Utara.

Geografis

Pada awal 1949, Sumatera mengalami reorganisasi pemerintahan. Menurut keputusan darurat pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 17 Mei 1949, Nomor 22 / Pem / PDRI, Gubernur Provinsi Sumatera Utara dicabut. Selain itu, ada tata tertib darurat pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 17 Desember 1949 dibentuklah Propinsi Aceh dan Propinsi Tapanuli / Sumatera Timur. Kemudian, ganti UU No. 30 dengan peraturan pemerintah. Pada tanggal 14 Agustus 1950 yaitu tanggal 5 Mei 1950 SK tersebut dicabut dan Sumatera Utara ditetapkan kembali.

Mematuhi hukum Republik Indonesia. Tidak. Diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956, Daerah Otonomi Aceh dibentuk pada tanggal 7 Desember 1956, dan Sumatera Utara menjadi bagian dari wilayah Aceh.

Provinsi Sumatera Utara terletak pada garis lintang 1 ° -4 ° LU dan 98 ° -100 ° BT. Luas daratan Provinsi Sumatera Utara adalah 72.981,23 km².

Sumatera Utara pada dasarnya dapat dibedakan menjadi:

  • Pantai Timur
  • Pegunungan Bukit Barisan
  • Pantai barat
  • Nias

Pesisir timur merupakan kawasan dengan pertumbuhan tercepat di provinsi ini karena kebutuhan infrastruktur yang relatif lengkap dibandingkan kawasan lain. Dibandingkan dengan kawasan lain, kawasan Pantai Timur juga merupakan kawasan yang relatif padat penduduknya. Pada masa penjajahan Hindia Belanda, daerah tersebut merupakan penduduk provinsi Oostkust dan Riau di Sumatera.

Di bagian tengah provinsi, ada Pegunungan Bukit Bari. Di daerah pegunungan ini, beberapa daerah menjadi padat penduduk. Daerah dekat Danau Toba dan Pulau Samosir merupakan daerah padat penduduk untuk kelangsungan hidup.

Pesisir barat merupakan wilayah yang relatif sempit, komposisi populasinya meliputi masyarakat Batak, Minangabao dan Asain. Namun dari segi budaya dan bahasa nasional, daerah ini termasuk dalam budaya dan bahasa Minangkabau.

  • Utara Provinsi Aceh Utara dan Selat Malaka
  • Timur Selat Malaka
  • Selatan Provinsi Riau Bagian Selatan, Provinsi Sumatera Barat dan Indonesia
  • Barat Provinsi Siaqi dan Samudra Indonesia

Ada 419 pulau di Sumatera Utara. Pulau terluar adalah Pulau Simuk (Kepulauan Nias) dan Pulau Berhala di Selat Sumatera (Malaka).

Nias adalah pulau utama Nias, dan ada pulau-pulau kecil lainnya di sekitarnya. Kepulauan Nias terletak di pesisir pantai barat Samudra Hindia. Pusat pemerintahan terletak di Gunung Sitoli.

Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau yang terdiri dari 4 pulau utama: Sibuasi, Pini, Tanabara, dan Tanamatha. Pusat pemerintahan adalah Pragulo di pulau Sibuassi. Kepulauan Batu terletak di sebelah tenggara Kepulauan Nias. Pulau-pulau lain di Sumatera Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Lego, Masa, Bao (Bau), Simaleh, Makole, Jake dan Sunga, Sigata.

Di Sumatera Utara saat ini terdapat dua taman nasional yaitu Taman Nasional Guna Rece dan Taman Nasional Badangadis. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 44 Tahun 2005, luas hutan Sumatera Utara saat ini 3.742.120 hektar. Termasuk cagar alam / cagar alam seluas 477.070 hektar, hutan lindung 1.297.330 hektar, hutan hasil terbatas 879.270 hektar, hutan permanen 1.035.690 hektar, dan hutan konversi 52.760 hektar.

Namun, angka tersebut hanya legal. Karena kenyataannya hutan yang ada sudah tidak begitu luas. Karena pendudukan dan penebangan liar, banyak kerusakan yang ditimbulkan. Sejauh ini, lebih dari 206.000 hektar hutan di Sumatera Utara telah berubah fungsinya. Telah menjadi lahan hutan buatan, beremigrasi. Di areal ini luas tanam mencapai 163.000 hektar, sedangkan area migrasi mencapai 42.900 hektar.

Baca Juga: 5 Tempat Wisata Terbaik di Banda Aceh

Iklim

Daerah ini beriklim tropis. Dari Mei hingga September, curah hujan sangat sedikit. Sedangkan pada bulan Oktober hingga April relatif lebih banyak hujan karena intensitas udara yang lembab.

Dewan Perwakilan

DPRD Sumatera Utara memilih 100 anggota melalui pemilihan umum setiap 100 tahun. Pimpinan DPRD Sumatera Utara terdiri dari seorang ketua dan empat wakil ketua dari partai dengan kursi dan suara terbanyak. Pengangkatan anggota DPRD Sumut yang saat ini dilantik merupakan hasil Pemilu 2019 yang dibuka pada 16 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Medan Cicut Setyarso dalam Sidang Paripurna DPRD Provinsi Sumatera Utara. Komposisi anggota DPRD periode 2019-2024 terdiri dari 11 parpol, di mana PDI Perjuangan merupakan partai dengan perolehan kursi terbanyak dengan 19 kursi, disusul oleh Gerindra dan Golkar dengan masing-masing 15 kursi.

Pemekaran Daerah

Dengan rekonstruksi Kabupaten Tapanuli di sebelah selatan, provinsi ini memiliki kabupaten baru yaitu Kabupaten Padang Lawas yang beribukota di Kota Sibu dan memiliki UURI No. 38/2007 dan Kabupaten Padang Lawas Utara. Ibukota provinsi ini adalah Gunua Tua, dasar hukumnya adalah UURI No. 37/2007.

Rencananya pulau Nias akan kembali terbagi, yaitu terbentuknya Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Signas, dan Kota Guron Sitori.

Penduduk

Sumatera Utara merupakan provinsi terpadat keempat di Indonesia, setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Berdasarkan pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) tahun 1990, jumlah penduduk Sumatera Utara adalah 10,81 juta jiwa, pada tahun 2010 penduduk Sumatera Utara meningkat menjadi 12,98 juta jiwa. Pada tahun 1990 kepadatan penduduk Sumatera Utara 143 jiwa per kilometer persegi, dan pada 2010 meningkat menjadi 178 jiwa per kilometer persegi. Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000 hingga 2010 adalah 1,10%. Pada sensus 2015, jumlah penduduk Sumatera Utara meningkat menjadi 13.937.797 dengan kepadatan penduduk 191 jiwa / km2.

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di Sumatera Utara tidak tetap setiap tahun. Pada tahun 2000 TPAK kawasan tersebut menyumbang 57,34%, pada 2001 meningkat menjadi 57,70%, dan pada 2002 meningkat menjadi 69,45%.

Suku Bangsa

Sumatera Utara adalah provinsi multi-etnis, Batak, Nias, Sirada [21] dan Melayu adalah penduduk asli daerah tersebut. Wilayah pesisir timur Sumatera Utara biasanya dihuni oleh orang Melayu. Ada banyak orang Minangkabau yang tinggal di pesisir barat dari Barus hingga Natal. Wilayah tengah di sekitar Danau Toba dihuni oleh suku Batak yang sebagian besar beragama Kristen. Suku Nias terletak di bagian barat Nusantara. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Sumatera Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak memperkenalkan kuli kontrak untuk menggarap perkebunan tersebut. Kebanyakan pendatang berasal dari Jawa dan Tionghoa. Di pesisir timur, seperti Langkat dan Deli Serdang, suku Banjar sudah ada sejak abad ke-19. Ada juga orang India (terutama Tamil) dan Arab yang berjuang di Sumatera Utara.

Menurut sensus 2010, mayoritas penduduk Sumatera Utara adalah Batak, termasuk semua suku Batak. Lalu ada Jawa, Nias, Melayu, Tionghoa, Minang, Aceh, Banjar, India, dll.

Pusat distribusi suku Sumatera Utara adalah sebagai berikut:

  1. Melayu: Pantai Timur, terutama Lankat, Del Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Asahan, Labuhanbatu dan Kota Medan.
  2. Suku Batak Karo: Kabupaten Karo, Kabupaten Del Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat (bagian hulu).
  3. Suku Batak Toba: Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Hassandutan Hongbang, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Asahan.
  4. Batak Mandaling / Angola Suku: Kabupaten Mandaling Natal, Kabupaten Nantapanuli, Kabupaten Labuan Batu, Kabupaten Padang Ravas.
  5. Suku Pesisir: Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Siboga.
  6. Suku Batak Simalungun: Kabupaten Simalungun, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Batubara.
  7. Suku Batak Pakpak: Kabupaten Dairi, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Pakpak Barat.
  8. Suku Nias: Pulau Nias, Kota Siboga, Pantai Tengah Tapanuli dan Tapanuli Selatan.
  9. Suku Minangkabau: Kabupaten Asahan Kota Medan, Pantai Barat
  10. Suku Bangal: Kabupaten Lanka, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai
  11. Suku Aceh: Kota Medan, Kota Binje, Kabupaten Lanka
  12. Suku Jawa: Pantai Timur.
  13. Tionghoa: kota-kota di pesisir timur dan barat.
  14. Suku Arab: Kota Medan.
  15. Suku Indian: Medan, Binje, Siborga, Pamatanga, Antar dan Tanjong Palai.
  16. Suku Siladang: Bukit Torsihite, Mandaiiling Natal.

Bahasa

Secara umum, bahasa yang digunakan secara luas adalah bahasa Indonesia. Kebanyakan orang di suku Melayu di deli itu berbicara bahasa Indonesia karena sangat dekat dengan bahasa asli deli itu, bahasa Melayu. Wilayah pesisir timur, seperti Serdang Bedagai, Pangkalan Dodek, Batubara, Asahan, dan Tanjung Balai, menggunakan dialek Melayu “o” dan dialek yang digunakan di Labuhan Batu, dengan jenis yang sedikit berbeda. Ciri khas Bahasa Melayu Asahan adalah pelafalan huruf R berbeda dengan bahasa Melayu Deli, misalnya kata “search” dilafalkan “caghi” dan pengucapan kereta api “kegheto”. Di Kabupaten Langkat, mereka masih menggunakan kata Melayu “e”, yang sering disebut dengan Maya. Orang Jawa di areal perkebunan berbicara bahasa Jawa setiap hari.

Di Medan, selain bahasa Indonesia, orang Tionghoa biasanya berbahasa Hokkien. Orang India berbicara bahasa Tamil dan Punjabi, serta bahasa Indonesia. Di pegunungan, orang Batak berbicara bahasa Batak, yang terbagi menjadi empat aksen (Silindung-Samosir-Humbang-Toba). Bahasa suku Simalungun dan Mandailing juga mirip dengan bahasa Batak Toba, namun jenisnya berbeda. Suku Karo berbicara dalam bahasa Karo yang berbeda dengan bahasa Batak Tengah. Bahasa suku Pakpak hampir mirip dengan suku Karo, namun agak kasar. Suku Nias berbicara bahasa Nias di Kepulauan Nias. Sementara itu, masyarakat pesisir barat, seperti Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Natal, semuanya berbahasa Pesisir.

Agama

Berdasarkan sensus 2015, mayoritas penduduk Sumatera Utara beragama Islam yaitu 63,91%, disusul Kristen Protestan 27,86%, Katolik 5,41%, Budha 2,43%, Hindu 0,35%, Konghucu 0,02 dan Palmalin 0,01%

Agama utama di Sumatera Utara menurut ras adalah:

  1. Islam: Terutama diterima oleh Melayu, Pesisir, Minangkabau, Jawa, Aceh, Arab, Mandalin, Angola, Karo, Simalungon, Batak Pisir dan Tukang roti
  2. Kristen (Protestan dan Katolik): Terutama didukung oleh Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Nias dan beberapa suku Batak Angkola di Cina.
  3. Hinduisme: sebagian besar dianut oleh kaum urban Tamil
  4. Buddhisme: Terutama didukung oleh Peranakan perkotaan
  5. Konfusianisme: Diterima terutama oleh Peranakan perkotaan
  6. Parmalim: dianut oleh sebagian suku Batak Huta Tinggi

Semuanya anim: masih didukung oleh suku Batak yaitu Pelebegu Parhabonaron dan kepercayaan serupa

Pendidikan

Pada tahun 2005, jumlah anak putus sekolah di Sumatera Utara mencapai 1.238.437, sedangkan jumlah siswa miskin mencapai 8.452.054.

Dari total APBD tahun 2006, Rp.2.204.084.729.000 Rp.139.744.257.000 untuk pendidikan, posisi ini termasuk anggaran departemen kebudayaan.

Di antara 382.587 siswa yang mengikuti pelatihan SMP / SMA / SMK tahun 2005, jumlah siswa yang lulus UN mencapai 87,65% atau 335.342 siswa. Pada saat yang sama, 12,35% siswa yang tidak lulus berjumlah 47245 orang.

Kesehatan

Secara keseluruhan, jumlah penderita tuberkulosis baru (TBC) di Sumatera Utara mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 kasus tuberkulosis diperkirakan sekitar 160 per 100.000 penduduk. Jika penduduk Sumatera Utara tercatat 12 juta, maka akan ada 19.000 penderita TB di daerah tersebut.

Jumlah penderita HIV / AIDS di Sumatera Utara per Oktober 2005 sebanyak 301 orang yang terdiri dari 26 WNA dan 276 WNI. Sementara per Agustus 2005, jumlah penderita HIV / AIDS adalah 34 orang.

Tenaga Kerja

Angkatan kerja. Pada tahun 2002, angkatan kerja di Provinsi Sumatera Utara mencapai 5.276.102 orang. Jumlah ini meningkat 4,72% dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah status buruh, jumlah orang yang mencari pekerjaan juga meningkat. Jumlah pencari kerja pada tahun 2002 mencapai 355.467 orang. Terjadi peningkatan 57,82% dibanding tahun sebelumnya.

Tingkat pengangguran terbuka (TPT). Jumlah TPT di Sumatera Utara meningkat dari 4,47% pada tahun 2001 menjadi 6,74% pada tahun 2002. TPT tertinggi terjadi di Kota Medan yaitu mencapai 13,28%, disusul Kota Sibolga (11,71%), Kabupaten Langkat (11,06%) dan Kodya Tebing Tinggi (10,91%).

Angkatan kerja. Tenaga kerja 5,1 juta orang. Majikan, wiraswasta (20%) dan pekerja rumah tangga (sekitar 23%) menyumbang sekitar 34%. Besar kecilnya usaha dapat dilihat dari komposisinya, di antara mereka yang utama adalah usaha kecil sekitar 99,8% dan hanya sekitar 0,2% yang diklasifikasikan sebagai perusahaan besar.

Pendidikan pekerja. Tingkat pendidikan mayoritas angkatan kerja. 48,96% pekerja berpendidikan yang belum menyelesaikan pendidikan dasar atau tamat sekolah dasar. Lulusan Sekolah Menengah Pertama (SLTP) mencapai 23%. Sedangkan lulusan Sekolah Menengah Atas (SLTA) mencapai 24,08%. Pada saat yang sama, hanya 3,95% lulusan perguruan tinggi.

Baca Juga: 5 Perusahaan Rokok Terbesar dan Terpopuler di Indonesia

Prekonomian

Energi

Sumatera Utara kaya akan sumber daya alam, antara lain gas alam di kawasan Tandan dan Binje, serta minyak bumi di Bangkalan Brandan di Kabupaten Lankat yang sudah dieksplorasi sejak zaman Hindia Timur Belanda.

Selain itu di Kuala Tanjung Kabupaten Asahan juga terdapat PT Inalum yang bergerak di bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium, dan merupakan satu-satunya perusahaan di Asia Tenggara.

Sungai pegunungan di sekitar Danau Toba juga merupakan sumber daya alam dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber tenaga listrik tenaga air. Pembangkit listrik tenaga air terbesar di Sumatera, PLTA Asahan, terletak di Kabupaten Toba Samosir.

Selain itu, di daerah pegunungan banyak terdapat hotspot panas bumi yang dapat dikembangkan sebagai sumber energi panas atau uap, yang kemudian dapat diubah menjadi listrik.

Pertanian dan pertanian

Provinsi ini terkenal dengan luas areanya, dan hingga saat ini penanaman buatan masih menjadi sumber utama perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh swasta dan perusahaan milik negara. Areal tersebut berada di wilayah perkebunan BUMN Sumatera bagian utara, antara lain PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II), PTPN III dan PTPN IV.

Selain itu, Sumatera Utara juga terkenal dengan luas areanya. Selama ini hutan tanaman masih menjadi sumber utama perekonomian provinsi. Perkebunan dikelola oleh swasta dan perusahaan milik negara. Sumatera Utara menghasilkan karet, kakao, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis dan tembakau. Perkebunan tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu dan Tapanuli Selatan.

Area penanaman padi. Luas panen tahun 2005 hanya 807.302 hektar, turun sekitar 16.906 hektar dari 824.208 hektar pada tahun 2004. Sejak tahun 2004 produktivitas tanaman padi pada tahun 2005 dapat ditingkatkan menjadi sekitar 43,49 kwintal per hektar, masih 43,13 kwintal per hektar, sedangkan produktivitas tanaman padi telah meningkat dari 24,73 kwintal per hektar menjadi 26,26 kwintal per hektar. Pada tahun 2005, surplus beras di Provinsi Sumatera Utara mencapai 429 ton, sedangkan total produksi beras di daerah tersebut sekitar 21,27 juta ton.

Areal perkebunan karet. Pada tahun 2002, luas areal perkebunan karet di Sumatera Utara 489.491 hektar dengan hasil panen 443.743 ton. Pada saat yang sama, pada tahun 2005 luas areal karet berkurang atau hanya tersisa 477.000 hektar, dan hasilnya turun menjadi 392.000 ton.

irigasi. Luas wilayah irigasi teknis di Sumatera Utara adalah 132.254 hektar, meliputi 174 daerah irigasi. 96.823 hektar dari 7 kabupaten irigasi mengalami kerusakan yang sangat parah.

Produk pertanian. Sumatera Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis dan tembakau. Perkebunan tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu dan Tapanuli Selatan. Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara dan memberikan devisa yang sangat besar bagi Indonesia. Selain komoditas budidaya, Sumatera Utara juga dikenal sebagai penghasil komoditas hortikultura (sayur mayur dan buah-buahan) antara lain jeruk Medan, Del Jambu, sayur kol, tomat, kentang dan wortel yang diproduksi di wilayah Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. . Produk taman ini telah diekspor ke Malaysia dan Singapura.

Perbankan

Selain bank umum nasional, bank BUMN dan bank internasional, saat ini terdapat 61 bank negara (BPR) dan 7 bank negara syariah (BPRS). Menurut data Bank Indonesia, pada Januari 2006 dana pihak ketiga yang diserap BPR mencapai Rp253.366.627.000 dan kredit mencapai Rp260.152.445.000. Sementara asetnya mencapai Rp. 340.880.837.000.

Bandar Udara

Di Sumatera Utara terdapat 7 bandara, antara lain 1 bandara berstatus internasional dan 6 bandara domestik, sebagai berikut:

  • Bandar Udara Internasional Kualanamu
  • Bandar Udara Dr. Ferdinand Lumban Tobing
  • Bandar Udara Aek Godang
  • Bandar Udara Binaka
  • Bandar Udara Lasondre
  • Bandar Udara Sibisa
  • Bandar Udara Silangit

Seni dan kebudayaan

Musik

Musik yang biasanya dimainkan seringkali bergantung pada upacara adat yang diadakan, namun lebih dominan dalam hal musik gendang. Layaknya masyarakat pesisir, ada sederet alat musik yang disebut Sikambang.

Suku Batak Toba, Pakpak dan Simalungun memiliki alat musik yang disebut Gondang, yang biasanya digunakan dalam upacara adat seperti perkawinan dan kematian. Suku Mandaling dan suku Batak Angola memiliki alat musik yang mirip dengan Gongdang, yaitu Godan Sambiran. Orang Melayu di Pantai Timur memiliki alat musik yang sama dengan orang Melayu, seperti akordeon, genderang Melayu, dan biola. Sementara di Tanakalu, terdapat alat musik Kulcapi dan Gendang yang biasa digunakan untuk mengiringi tari Landek atau Guro Guro Aron.

Arsitektur

Di bidang seni rupa yang paling menonjol adalah arsitektur rumah adat yang merupakan perpaduan antara patung, ukiran dan kerajinan tangan. Bangunan tempat tinggal adat muncul dalam berbagai bentuk ragam hias, Secara umum bangunan tempat tinggal tradisional dalam organisasi adat Batak melambangkan “kerbau tegak”. Dengan mendekorasi atap dengan kepala kerbau, situasi bisa diperjelas.

Rumah adat Batak yaitu Ruma Batak yang kokoh dan megah masih banyak digunakan di Pulau Samosir.

Rumah adat Karo terlihat lebih tinggi dan lebih tinggi dibanding rumah adat lainnya. Atapnya terbuat dari ijuk, dan biasanya ditambahkan atap segitiga yang lebih kecil, yang disebut “let go home” dan “ch plug”. Dibandingkan dengan rumah adat lain yang hanya beratap satu lantai di Sumatera Utara, rumah Karo berdiri tegak dan memiliki bentuk yang unik.

Rumah adat di kawasan Simalungun cukup menarik. Kompleks pemukiman adat desa Pematang Purba terdiri dari beberapa bangunan yaitu Rumah Bolon, Aula Bolon, Sunbed, Taboo Center dan Lesung.

Bangunan Mandaiiling yang terkenal disebut “Bagas Gadang” (rumah Namora Natoras) dan “Sopo Godang” (balai pertemuan adat).

Rumah Melayu tradisional di Sumatera Utara tidak jauh berbeda dengan rumah melayu di provinsi lain, namun dominan warna hijau.

Rumah-rumah adat di pantai barat terlihat lebih megah dan indah dari pada rumah tradisional lainnya. Rumah adat ini masih berdiri kokoh di pelataran Gedung Nasional Sibolga.

Tarian

Repertoar tari tradisional mencakup berbagai jenis. Beberapa adalah bentuk tarian sakral sihir, dan beberapa adalah bentuk hiburan tarian profan. Selain tarian tradisional yang menjadi bagian dari ritual adat, tarian sakral biasanya dibawakan oleh Dayu Dadu. Termasuk jenis tarian ini adalah tari guru dan tari Kirito. Datu memegang tongkat ajaib yang disebut “Tunggal Panaluan”.

Tarian senonoh biasanya merupakan tarian pergaulan muda yang ditarikan di pesta yang meriah. Ada Thor menari di pesta pernikahan. Biasanya ditarikan oleh penonton, termasuk kedua mempelai dan kaum muda. Tarian pemuda ini sering muncul, seperti morah-morah, parakut, sipajok, patam-patam dan kebangkiung. Tarian sakti, misalnya, penari nasiaran, satu-satunya penari panaluan. Tarian magis ini biasanya dilakukan dengan khusyuk.

Selain tari Batak, ada tarian Melayu seperti tari Serampang XII, tari Gundala-Gundala di Tanah Karo, tari Maena di Nias, dan tari Sikambang di Pantai Barus.Tarian Sikambang ini biasa dibawakan pada saat perayaan perkawinan dan khitanan.

Makanan Daerah

Makanan khas Sumatera Utara bervariasi dari daerah ke daerah. Orang-orang yang menghadiri pesta dan masakan rumah sangat akrab dengan saksang dan babi panggang. Misalnya seperti di kawasan Pakpak Dairi, Pelleng merupakan makanan khas dengan bumbu yang sangat pedas.

Di tanah Batak ada ikan dengke naniarsik yang bisa dikeringkan tanpa kelapa. Dari segi rasa, tanah Batak adalah surganya pecinta santan dan makanan pedas. Pasituak Natonggi atau uang untuk membeli getah manis adalah istilah yang sangat familiar untuk menggambarkan seberapa dekat tuak atau getah bagi kehidupan mereka.